Barefoot Gen, Review Film Jepang

image

Seperti kebanyakan sejarah tertulis dibuku yang melibatkan Perang Dunia II, sebagai pihak negara yang dijajah, kita pasti sering mendengarkan cerita tentang kekejian jaman penjajahan Jepang oleh guru sejarah kita lalu diakhiri dengan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Tentu saja kita juga harus berterima kasih kepada Amerika Serikat dengan keputusannya untuk mengebom kota tersebut sehingga tentara pasukan jepang yang menjajah negara kita mundur dan dapat meraih kemerdekaan yang bisa kita rasakan sampai saat ini. Namun,hingga minggu ini, saya seperti “mengalami” sendiri kengerian dari sesuatu abstraksi yang samar sampai bergidik. Meskipun sudah cukup puas dengan gambar gambar yang ditunjukkan dibuku sejarah atau internet, saya lebih merasakan adanya koneksi yang kuat dengan kejadian pengeboman hiroshima saat menontan film anime jepang yang baru saja saya tonton, Barefoot Gen.

image

Bersetting di Hiroshima pada tahun 1945, anime Barefoot Gen memulai cerita dengan alur lambat, menggambarkan sesosok bocah egois bernama Gen, yang memiliki hubungan harmonis dengan keluarganya. Meskipun harmonis, keluarga Gen mengalami hari – hari yang sulit, dan harus mengikuti program pemerintah penjatahan makanan yang dilakukan diseluruh jepang. sangat sulit bagi keluarga Gen, apalagi semenjak ibunya sedang mengandung dan membutuhkan lebih banyak nutrisi untuk calon bayi nanti.

Ada satu pemikiran yang terbesit dalam kepalaku saat ayah Gen dengan terang – terangan mengutarakan kekecewaannya pada pemerintahan jepang memulai perang dengan tujuan yang tidak jelas. Sangat berbahaya jika diutarakan depan umum, tapi tentu saja Ayah Gen mengutarakannya secara pribadi dirumahnya untuk mengajarkan anak – anaknya. Sampai saat saya menonton film “kartun” ini, tidak pernah terbesit dikepalaku bahwa pasti setidaknya ada juga orang jepang yang membenci keputusan pemerintah mereka untuk melaksanakan rencana perangnya. Hal ini tidak pernah diekslporasi di buku sejarah atau novel yang kita baca, apalagi  film hollywood yang kita nonton yang hanya mengeksplorasi kekejaman jepang sehingga membentuk pemikiran ke penonton/pembaca  “kita harus membenci semua orang jepang”, “semua orang jepang kejam dan tidak bermoral”.

 

image

Kembali ke cerita, diiisi keseharian denga sirene waspada, serangan pesawat tempur, kurangnya bahan makanan, akan  memenuhi pada 30 menit awal yang cukup rutin dan agak membosankan. Saya menyarankan anda untuk tetap menonton karena keseluruhan suasana akan berubah saat peristiwa naas 6 Agustus 1945 terjadi. Pada saat itu animasi menjadi nyata, tercengang, sekaligus mengerikan! membuat anda seperti benar benar berada disitu mengalami sendiri ngerinya perang nuklir.

Beberapa scene muncul dari berbagai macam macam sudut pandang karakter, Ada orang orang yang matanya meleleh, Ada yang sampai kepalanya putus, seekor anjing  mencoba berlindung di jembatan lalu melebur menjadi ketiadaan. Dan dengan banyaknya adegan seperti itu cukup memberitahu anda bahwa film ini memang bukan ditujukan ke anak – anak dibawah umur. inilah akibat Bom pemusnah massal yang disangkal oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai upaya untuk menyelamatkan ribuan nyawa.

Itu baru awalnya saja, api besar yang membakar seluruh hiroshima, orang – orang berubah jadi zombie, orang membersihkan luka yang membusuk dari belatung. Film ini dengan jelas menggambarkan penyakit yang disebabkan radiasi bom yang diderita selama bertahun – tahun. Pada alur ini juga menceritakan metamorfosa sifat Gen dari anak – anak menuju kedewasaan, karena ia harus mengurus keluarganya yang masih hidup, namun penggambaran bom dan after effect nya masih tetap menjadi sorotan utama dari film ini.

image

saya tidak habis pikir sebuah fim kartum mampu memotret kengerian Hiroshima dan Nagasaki sedalam ini. Keiji Nakazawa, penulis sekaligus produser  mengalami langsung kengerian bom hiroshima dan nagasaki. Seperti Gen di cerita, Nakazawa pernah hidup melalui kejadian mengenaskan sebagai bocah berumur 6 tahun dan menyajikan sudut pandang semasa kecilnya dalam film ini.

Ditambah dengan menonton Grave of the Fireflies, kita dapat melihat kedua sisi kejadian pengeboman hiroshima dengan seimbang.  Barefoot Gen mampu menyentuh penonton meskipun menggunakan penggambaran yang brutal. Dramatisasi yang kuat membuat isi film ini lebih cocok disajikan ke penonton dewasa.

Published by

yaya666

Hoby :Baca komik main game komputer dll... Likes :Banyak... Dislikes: Banyak... kuda lumping pap pap pap

2 thoughts on “Barefoot Gen, Review Film Jepang”

Komentar komentur komentir. Tinggalkan Komentar. But please dont leave any mean comment T_T..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s