The Lives of Others, Review film Jerman

image

Duduk seperti orang sedang melakukan tes pendengaran, headphone besar menutupi telinganya, tubuh dan mukanya kaku, mendengarkan suara bisikan. Namanya Gerd Weisler , seorang kapten Stasi , badan polisi rahasia milik pemerintah Jerman Timur. Bersetting pada tahun 1984,  pekerjaannya sehari-hari duduk di atap, menyadap orang-orang yang dicurigai telah membantah pemerintahan Jerman Timur.

Orang yang disadapnya adalah sutradara bernama Dreyman (Sebastian Koch) dan kekasihnya, seorang aktris, Christa – Maria Sieland (Martina Gedeck). Weisler pertama kali melihat Dreyman di pembukaan salah satu pentas dramanya. Saat itu dia diberitahu kalau Dreyman dulunya merupakan orang yang penting. Satu – satunya penulis yang pernah menuntut ilmu di Jerman Barat tapi tetap setia dengan Jerman Timur. Sangat mencurigakan menurut Wiesler. Dreyman adalah pria tampan, sukses, mempunyai kekasih yang cantik. Berlandaskan kecurigaan tersebut,  atau mungkin karena rasa iri, Wiesler memasang alat penyadap di apartemen Dreyman dan memulai operasi penyadapan.

image

Wiesler tidak menemukan sedikitpun bukti bahwa Dreyman adalah penghianat negara dalam proses penyadapan nya. Dreyman benar-benar setia dengan prinsip sosialis yang diterapkan oleh Jerman Timur. Sikap Dreyman ini membuat bingung para Stasi. Bagaimana mungkin orang seperti Dreyman ini yang merupakan seorang penulis pasti memiliki idealisme sendiri yang berseberangan dengan pemerintah Jerman Timur. Mungkin Dreyman tidak mempercayai Jerman Timur sepenuhnya, atau dia cuma ingin berada dipihak yang menang.

Wiesler itu sendiri adalah karakter yang menarik. Wajahnya seperti topeng, tidak pernah menampakkan ekspresi atau emosi. Bahkan kadang tatapannya sangat fokus. Saat menonton drama Dreyman, Wiesler mengamati Dreyman dengan rinci seperti kucing menunggu seekor tikus. Dia mampu mengerjakan pekerjaan rutinnya dengan mudah karena dia tidak punya kehidupan yang menarik, tidak punya hobi, kekasih, tidak ada sama sekali gangguan yang dapat mengalihkan fokusnya.

image

Meskipun film ini memenangkan penghargaan Oscar film berbahasa asing terbaik pada tahun 2006, kamu mungkin belum pernah mendengarnya. Film ini memiliki alur yang sangat lambat dan agak membosankan. Tapi saya sarankan untuk tetap mengikutinya sampai habis karena pada pertengahan ke akhir drama dan ceritanya semakin menarik.

Wiesler sebenarnya seperti tidak punya pilihan saat atasannya, perdana menteri Jerman Timur Bruno Hempf (Thomas Thieme),  ternyata memiliki rasa suka terhadap Christa-Maria dan memerintahkan Wiesler untuk menjatuhkan, memergoki Dreyman bagaimanapun caranya sehingga Dreyman bisa dipenjara. Tapi kenyataannya Dreyman bersih dan tidak ada bukti yang bisa memenjarakannya. Mata mata berdedikasi tinggi seperti Wiesler ini pun bingung menyelesaikan misinya.

Masalahnya Wiesler tidak punya orang yang bisa diajak bicara. Ia berada di dunia yang diselimuti ketakutan terhadap pemerintah dimana salah bicara sedikit saja tentang pemerintah bisa bisa dijebloskan di penjara . Hal ini jelas sekali terlihat saat scene di kantin kantor Stasi, seorang opsir muda sedang bercanda dengan teman-temannya dan menceritakan joke tentang anti pemerintahan. Seketika Wiesler tertawa sedikit lalu dengan kejamnya menanyakan nama dan jabatan opsir muda tersebut. Hal yang sama bisa terjadi dengan Wiesler. Sehingga saat melalui masalahnya, dia tidak punya orang lain untuk membantunya. Tidak ada percakapan monolog dalam pikiran Wiesler yang biasa ada disinetron sinetron Rcti. Hanya ada raut muka kosong, menerka nerka apa yang ada dipikirannya,  tindakan apa yang akan dilakukannya. Dan seketika keputusan yang dibuat pun membuat terkejut penonton.

Tembok Berlin runtuh tahun 1989 dan cerita berlanjut beberapa tahun kemudian ke sebuah akhir yang ironis, mengejutkan, tetapi memuaskan. Meskipun tidak diceritakan kenapa bisa tembok Berlin runtuh dan Jerman bersatu kembali. Settingan cerita ini sedikit familiar dengan keadaan negara Indonesia saat pemerintahan Soeharto. Mirip yang dilakukan dengan Stasi, dimana dulu ada istilah “dinding punya telinga “,  saat berkelompot ingin menjatuhkan Soeharto pasti berakhir dipenjara.

The Lives of Others adalah film yang sangat tenang, tidak ada aksi menegangkan, tetapi sangat powerful di aspek cerita. Film yang dirangkai dengan pemikiran tersembunyi, keinginan rahasia, seperti ingin menyampaikan sesuatu melalui film. Karakter dan proses pengembangannya menarik dan setting film tentang penekanan paham sosialis pemerintah merupakan bagian dari sejarah negara Jerman yang sedikit orang tahu sehingga film ini juga sangat edukatif.
Sebuah perlawanan yang dapat menjatuhkan pemerintahan tanpa ledakan melainkan karena bisikan..

Published by

yaya666

Hoby :Baca komik main game komputer dll... Likes :Banyak... Dislikes: Banyak... kuda lumping pap pap pap

Komentar komentur komentir. Tinggalkan Komentar. But please dont leave any mean comment T_T..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s