Cerita Seram

Waktu itu adalah tahun 2011 dimana kontrakan masih ramai ditinggal dengan teman – teman kuliah. Kontrakanku memang agak luas jika ditempati bertiga saja, sehingga tempat ini biasa dijadikan tempat ngumpul – ngumpul, menginap, dan lain – lain .

Kami semua memiliki kebiasaan pada malam jum’at untuk berkumpul diruangan tengah. Memutar radio siaran yang menceritakan cerita – cerita seram, kemudian mendengarkannya bersama sama.

Kasur dan bantal – bantal yang ada dikamar dipindahkan keruangan tengah agar bisa mendengarkan sambil tiduran. Kalau sudah begini, tidak ada yang berani untuk tidur dikamar. Semuanya pasti akan pindah untuk tidur ke ruangan tengah.

Sebenarnya dikontrakan tidak ada radio, hanya menggunakan Hp nokia os symbian milik teman yang baterainya sudah bengkak, disambungkan dengan kabel charger nokia kecil untuk menjaga HP tetap nyala selama siaran berlangsung, kemudian dihubungkan ke speaker aktif yang speaker kanannya kurang begitu berfungsi dengan baik untuk mengeluarkan suara.

Sekitar jam 11 malam acara radio-pun dimulai. Kami semua mendengarkan dan menyimaknya dengan sangat serius. Hampir tidak ada suara yang dihasilkan saat itu kecuali suara narator penyiar yang berusaha keras untuk mencoba menciptakan suasana seram.

“ini letak seramnya dimana?”

“Ssssttttt…. Dengerin aja!”

“Ga ada seram – seramnya ah.”

Menciptakan suasana seram hanya dengan bermodal suara pasti terasa sulit. Narator butuh ekstra usaha keras untuk memainkan imajinasi kita membayangkan suasana, tempat, tokoh , konflik hanya lewat audio saja. Penggambaran visual akan sangat meringankan beban kerja narator untuk melakukan tugasnya. Tapi media-nya hanya ada radio saja.

Setelah acara habis tak sedikit dari kami yang kecewa dengan cerita yang disajikan. Cerita barusan kebetulan lagi tidak seramnya. Kadang seram kadang tidak. Tapi kebiasaan kita ini masih terus lanjut ke malam – malam jumat setelahnya. Sebenarnya bukan cerita seramnya yang kami tunggu, tapi kebiasaan berkumpul bersama – sama seperti inilah yang diinginkan . kami memang senang berkumpul sambil ngobrol – ngobrol bebas seperti ini apapun acaranya.

“ah gini doang. Kecewa penonton!”

“penonton kecewa?? Kita kan ga nonton. Tapi mendengarkan. Haha”

“oh iya.” Temanku baru sadar.

“ kecewa pendengar!” ralat temanku yang satu lagi sambil tertawa ringan.

Jam baru menunjukkan jam 12 malam. Untuk anak kuliah yang banyak waktu kosong seperti kita ini pasti masih merasa segar bugar. Waktu bersama – sama yang nantinya akan dirindukan dimasa depan ini pasti akan berasa sayang dilewatkan begitu saja. Kami semua belum ada yang ngantuk. Meskipun acara sudah habis tapi masih ingin berkumpul dan semuanya tidak ada ide kegiatan apalagi yang harus dilakukan.

“Ada yang punya film Horror ga?”

“Gw ada di laptop, ga terlalu seram tapi.”

“Atau ada yang mau nonton koleksi film horror ku?”

“Ah, itu sih bukan horror. Gore itu. Isinya darah – darah semua. Ga mau ah”

“Hahahahahaha”..

“atau bagaimana kita sharing cerita horror saja?”

Salah seorang teman, memberi sebuah ide. Sharing cerita horror. Sepertinya seru. Kebetulan kita semua berasal dari daerah yang berbeda – beda. Pasti akan menarik mendengarkan cerita – cerita seram dari daerah tertentu.

Temanku yang berasal dari Bandung, memulai cerita asal usul tentang urband legend dari situ seperti : rumah kentang, rumah gurita, noni belanda, hantu di goa jepang, patung pastor, dan banyak lagi cerita – cerita lainnya yang entah kenapa saya tidak terlalu ingat lagi ceritanya.

Teman – temanku yang berasal dari daerah lain juga tidak ketinggalan ikut sharing cerita seram. Tapi saya tidak terlalu ingat cerita – cerita apa saja yang waktu itu diceritakan. Seingatku diantara semua cerita – cerita itu tidak ada yang pengalaman pribadi. Semuanya pasti tentang pengalaman orang lain, atau cerita tentang asal usul hantu dan sebagainya. Sehingga kami semua pun berkesimpulan bahwa sebenarnya hantu itu tidak ada. Karena selama kita hidup belum pernah mengalami pengalaman mistis diganggu makhluk halus atau semacamnya. Dan mudah-mudahan kedepannya tidak akan pernah terjadi. Kami berusaha sok berfikir seperti orang modern yang tidak mempercayai hal begituan, haha.

“Saya pernah…”

“???”

Temanku sebut saja namanya Komang, yang dari tadi diam saja saat kita semua lagi ribut – ributnya tiba tiba membuka suara untuk pertama kalinya.

“Pernah apa??”

“Ketemu Hantu…. Hantu Pocong!!” jawab Komang dengan nada sok misterius.

“Ceritain lah!”

Kami semua yang dari tadi ribut – ribut, tiba – tiba menjadi tenang mendengarkan cerita teman kita satu ini dengan seksama.

“Udah lama sih, waktu 6 SD, pas pesantren kilat.” Dia lanjut bercerita.

“waktu itu saya juga orangnya tidak percaya dengan hantu – hantuan. Lumayan pemberani lah. Makanya, kalau ada temanku yang tidak berani pergi ke toilet sendirian untuk buang air, pasti minta tolong ke saya untuk menemaninya.”

“Jarak dari ke kamar ke toilet itu sebenarnya dekat. Tapi lampu dilorong dimatikan sehingga suasananya sangat seram.”

“temanku sedang sakit perut, dia minta saya untuk menemani. Sampai ditoilet, saya menunggu di luar karena tidak tahan dengan bau-nya”

Kita semua tertawa sebentar kemudian perlahan redup kembali menjadi tegang. Ekspresi si komang sepertinya serius sekali.

“entah temanku ini habis makan apa, dia di toilet lama banget. Karena sendirian diluar toilet, suasananya sangat gelap, jadinya merinding juga.”

“suasanyanya sangat hening. Tidak ada suara sama sekali, saking heningnya saya bisa mendengarkan detak jantungku sendiri. Saya pun jadi bengong, menatap kosong ke sepanjang lorong. ”

“tiba – tiba ada suara seperti meminta tolong datang ujung lorong yang gelap.”

“Putih – putih, loncat – loncat , awalnya kecil, mendekat – mendekat , semakin besar, semakin dekat, wajah hancur mengerikannya semakin jelas, pokoknya seram banget waktu itu, kaki jadi lemas buat kabur. Tidak bisa bernafas dengan hidung, Cuma bisa lewat mulut, kacau lah, pengen teriak tapi seperti ada yang menahan di tenggorokan”

”tolong – tolong, pocongnya minta tolong lagi dengan lirih, padahal semestinya saya yang meminta tolong karena ketemu pocong. Tanpa sadar, itu pocong sudah sampai berdiri pas didepan hidungku. ”

Cara komang bercerita intens sekali, tanpa sadar saya mencubit guling dengan keras sekali. Yang lain juga sepertinya mendengarkannya dengan sangat serius.

“tooo~`loongg..”

“saya sudah berfikir ajal sudah tiba. Karena pocong.”

“tapi setelah agak tenang sedikit, mencoba sedikit memberanikan diri, mengatur ritme nafas agar lebih stabil, dengan mulut, mulai membiasakan menatap wajah pocong yang seram, si pocong kemudian meminta pertolongan ke saya”

“tolong bukakan ikatan tali pocong saya…. “ si pocong minta tolong

“jika kamu membukakan tali pocong saya, saya akan membiarkanmu selamat”

Suasana menjadi sangat seram.

“trus gimana? Lu tolongin?” tanya temanku satu lagi

“pengennya cari selamat, ya saya buka tali pocongnya.”

“tapi sayangnya….”

“..”

“sesudah saya membukakan tali pocongnya, ada tulisan kecil jelas terbaca di tali nya.”

“..”

“MAAF Anda Belum Beruntung!”

Published by

yaya666

Hoby :Baca komik main game komputer dll... Likes :Banyak... Dislikes: Banyak... kuda lumping pap pap pap

Komentar komentur komentir. Tinggalkan Komentar. But please dont leave any mean comment T_T..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s